membangun karakter anak melalui buku cerita

membangun karakter anak melalui buku cerita

Posted on

Whandi.Net ~ Perlu kita ketahui, bahwa untuk membangun sebuah karakter anak bisa melalui sebuah buku cerita yang sering kita bacakan atau anak baca. Kita ingat, pada fase kanak-kanak, seringkali pada waktu malam sebelum tidur atau saat santai dengan orang tua, kita diperdengarkan dengan berbagai cerita atau dongeng. Mulai dari cerita Si Cerdik Kancil dengan Buaya, Sang Bangau, Bawang Putih dan Bawang Merah, Legenda Sangkuriang, Tangkuban Perahu, sampai sejarah pahlawan bangsa Pangeran Diponegoro, Tengku Imam Bonjol, Tjut Nyak Dien, maupun lainnya.

Banyak dari kita yang mengharapkan agar cerita yang didongengkan menjadi lebih panjang dan berakhir membahagiakan. Walaupun pernah diceritakan dan kerap diulang-ulang, rasanya kita tidak pernah bosan untuk kembali mendengarkannya, apalagi jika kedua orang tua atau kakek-nenek kita, bercerita dengan ekspresi dan intonasi suara yang pas sekaligus dengan menggunakan alat-alat peraga akan menuntun imajinasi kita.

Anak-anak akan mencerna sebuah cerita sejak mereka dapat mengerti sesuatu yang terjadi disekelilingnya dan juga mampu mengingat apa yang disampaikan orang lain kepadanya. Saat anak memasuki usia tiga tahun, biasanya mereka dapat dengan mudah mencermati cerita-cerita pendek yang dikisahkan kepadanya.

Cerita maupun dongeng merupakan sebuah gerbang pertama anak untuk mempelajari etika. Cerita yang bagus akan mendidik rasa, imajinasi akhlak, dan mengembangkan pengetahuan mereka. Namun tidaklah semua cerita bisa didongengkan kepada anak-anak. Cerita yang mengandung unsur-unsur kekerasan, permusuhan, tipu daya, atau hal-hal yang tidak mendidik, sangat berpengaruh negatif pada pembentukan moral dan akal anak, baik dalam kepekaan rasa, imajinasi maupun bahasanya kelak.

Di wilayah Timur Tengah, kegiatan mendongeng menjadi salah satu kegiatan yang sangat lazim dilakukan. Mereka mendengarkan paling sedikit 20 cerita dalam setiap tahunnya. Dengan kurun waktu enam tahun pada tingkat Sekolah Dasar (SD), dipastikan mereka sudah mengenal 120 cerita.

Cerita yang disampaikan disesuaikan dengan tingkat kelas dan usia mereka, dengan pertimbangan agar si anak tidak terganggu pertumbuhan logikanya. Bisa dibayangkan bagaimana imajinasi anak dapat berkembang dengan baik dan akan menjadi lebih kreatif.

Baca juga :  Pengertian Konsep Menurut Beberapa Para Ahli

Karena sudah terbiasa mendengar dan mengolah cerita, akhirnya kita akan menyaksikan anak-anak Sekolah Dasar yang mampu mengungkapkan ekspresi idenya sendiri secara lugas dan cekatan. Berbeda sekali dengan minimnya bahan-bahan dongengan di Indonesia.

Langkanya buku panduan mengenai seni bercerita di Indonesia, akhirnya mendorong PT. Remaja Rosdakarya membuat buku panduan praktis khusus untuk mendongeng, utamanya untuk konsumsi para guru agar bisa diceritakan kepada para siswanya. Dengan asumsi bahwa pelajaran cerita-sebagai perluasan dari pelajaran bahasa telah menjadi mata pelajaran tersendiri di sekolah-sekolah.

Buku ini terdiri atas dua bagian. Bagian pertama berisi metode yang diberikan untuk anak yang masih dalam tahap awal belajar, maupun dalam tahap pendidikan. Dilengkapi panduan bagaimana menyampaikan sebuah cerita, termasuk di dalamnya bagaimana menentukan tema, penggunan bahasa, intonasi suara, penguasaan terhadap siswa agar mereka berminat mnedengarkan cerita, maupun penggunaan alat peragaan.

Bagian kedua berisi tiga puluh cerita dongeng yang khusus diperuntukkan bagi anak-anak yang telah memasuki usia 7 sampai 10 tahun. Masing-masing cerita membawa misi pendidikan dan nilai moral yang berbeda.

Semisal, cerita Putri Kelingking Raja terkandung nilai luhur untuk selalu berterima kasih kepada orang yang telah berbuat baik kepadanya, Singa dan Musang memberikan dorongan kepada anak untuk memberikan solusi atau jalan keluar bagi teman yang sedang mengalami masalah.

Menyayangi sesama yang sedang mendapat kesulitan serta saling berbagi saat memperoleh rezeki, tersaji dalam dongeng Dawud si Anak Yatim. Cerita-cerita lainnya bisa digunakan orang tua untuk melengkapi perbendaharaan dongeng si anak.

Cerita-cerita tersebut bisa ditingkahi dengan nyanyian, iringan lagu, tiruan suara tokoh, atau jika memungkinkan bisa juga menggunakan media atau sarana yang dapat mendukung jalannya cerita, seperti lampu, topi, tongkat, sapu tangan, boneka hewan, dan alat lainnya.

Agar cerita tidak berjalan satu arah, si anak atau siswa dapat diikutsertakan dalam penyampaiannya. Memancing mereka dengan pertanyaan-pertanyaan yang mampu mendorong pola berpikir aktif, menirukan suara-suara tokoh yang ada dalam cerita, bahkan sekaligus memperagakan secara langsung tokoh-tokoh tersebut di hadapan teman-temannya, bisa dijadikan alternatif untuk menggugah imajinasi si anak.

Baca juga :  pengertian, unsur dan prinsip-prinsip seni rupa

Kemajuan teknologi dan kesibukan orang tua umumnya dijadikan alasan untuk tidak mendongeng kepada anak. Hal ini mendorong anak menjadikan dongeng sebagai sesuatu yang asing dan tidak menarik lagi. Mereka mengganti peninabobo yang mengantar tidur mereka dengan play station, VCD player, dan alat elektronik modern lainnya.

Tidak bisa bercerita sebenarnya tidak bisa digunakan sebagai alasan bagi orang ua untuk memperdengarkan kisah atau dongeng kepada anak-anaknya. Setiap manusia pada dasarnya mempunyai potensi untuk menjadi pencerita.

Lewis Carrol, seorang pengarang terkenal, pernah menyatakan bahwa bercerita adalah sebagai Hadiah Kasih Sayang. Mengisahkan sebuah cerita berarti kita sudah memberikan hadiah kepada buah hati kita, sekaligus membantu si anak atau siswa menanggulangi masalah psikologis yang harus dilaluinya untuk menjadi dewasa.

Bagaimanapun, anak adalah aset bagi orang tuanya. Seperti yang dituturkan oleh seorang psikolog, Emmy Soekresno, S.Pd., pada usia The Golden Years atau lima tahun pertama, seyogianyalah anak-anak mulai diarahkan ke arah yang positif, mengingat 90% fisik otak anak telah terbentuk, dan anak mempunyai potensi yang sangat besar untuk berkembang.

Masa keemasan tersebut tidak akan terjadi sampai dua kali. Sebagai orangtua kita dituntut untuk proaktif memperhatikan hal-hal yang berkenaan dengan perkembangan si buah hati. Termasuk di dalamnya sikap orang tua memilihkan mereka cerita atau dongeng yang mampu menjadikan mereka generasi yang berkarakter tangguh dan mandiri, dengan tidak melepaskan rasa hormat terhadap lingkungan sekitarnya.